Jejak Pamatan, Kota yang Hilang Terkubur Letusan Gunung Samalas  

Mendengar kata Pamatan, pikiran saya menerawang ke kehidupan orang-orang zaman kerajaan.

Entah seperti apa hiruk pikuk penduduk kala itu.

Tapi saya membayangkan kehidupan mereka seperti digambarkan drama-drama kolosal Indonesia. Saur Sepuh, Tutur Tinular, hingga Angling Dharma.

Mungkin juga bayangan itu salah.

Sejauh ini belum ada gambaran utuh tentang Pamatan. Salah satu kota kerajaan yang disebut pernah eksis di Pulau Lombok.

Pamatan bahkan dijuluki sebagai Pompeii dari Timur.

Pompeii, Italia merupakan kota zaman Romawi kuno yang hancur oleh letusan Gunung Vesuvius tahun 79 Masehi.

Kota ini ditemukan 1.600 tahun kemudian. Tepatnya tahun 1748 M, setelah digali dari lapisan debu tebal.[1]

Sedangkan Pamatan merupakan kota di Pulau Lombok abad ke-13 yang hilang akibat letusan Gunung Samalas (Rinjani) tahun 1257 M.

Sampai kini informasi lengkap dan lokasi persis Pamatan di Lombok belum bisa dipastikan.

Bila sejarah Pamatan digali lengkap, kita akan tahu bagaimana masyarakat kala itu menghadapai bencana vulkanik.

Setidaknya bisa menjadi petunjuk untuk membuka lembaran sejarah penduduk Lombok kala itu.

Saat ini, informasi tentang Pamatan sangat terbatas.

Butuh banyak kajian para arkeolog dan sejarawan agar kisah Pamatan tidak lagi menjadi misteri.

—-

Penasaran dengan Pamatan. Sabtu, 23 Agustus 2019, saya datang ke Dusun Tanak Jamak, Desa Tanak Beak, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah.

Jarak desa ini sekitar 23,6 kilometer dari Kota Mataram.

Kata seorang teman, Pamatan yang disebut dalam naskah lontar Babad Lombok ada di desa itu.

Di sana saya menemui Indra Cahyadi, ketua Pokja Geowisata Samalas di Desa Tanak Beak.

Dia mengajak saya ke satu lokasi. Melewati jalan tanah. Memasuk kebun dan perkampungan warga.

Sekitar 100 meter dari jalan aspal, kami berhenti di lubang bekas galian yang menganga. Luasnya kurang lebih 20 hektare.

Galian itu menyisakan singkapan berupa tebing tanah setinggi 15 meter.

Lokasi ini merupakan bekas tambang batuan yang sudah lama ditinggalkan.

Tanah-tanahnya dikeruk untuk proyek pembangunan Bandara Internasional Lombok tahun 2013.

Tak disangka, bekas galian itu menjadi petunjuk awal lokasi kerajaan Pamatan yang terkubur akibat letusan dahsyat Gunung Samalas.

Singkapan-singkapan di Tanak Beaq diyakini para geolog merupakan bekas letusan Gunung Samalas, kini dikenal sebagai Gunung Rinjani.

Lokasi ini sekarang kerap dikunjungi tim geolog dan arkeolog yang penasaran dengan penemuan di tempat itu.

Sebagian meyakini kota kerajaan bernama Pamatan berada di tempat itu. Karena di sana ditemukan tanda-tanda kehidupan.

Warga banyak menemukan artefak berupa pecahan tembikar yang tertimbun endapan awan panas. Juga tulang belulang yang sudah menjadi fosil.

Temuan para geolog dan arkeolog itu menjadi petunjuk, bahwa di lokasi itu pernah ada peradaban manusia. Tapi kemudian tertimbun endapan awan panas Gunung Samalas sedalam 15 meter.

Berdasarkan riset Franck Lavigne terhadap letusan Samalas. Letusan Samalas disebut sebagai letusan terdahsyat dalam 10 ribu tahun terakhir.

Samalas disebut memuntahkan 40 kubik kilometer meterial hingga ketinggian 43 km ke atmosfer bumi. Sehingga berdampak ke berbagai belahan benua Eropa dan Amerika.

Di Indonesia, letusan Samalas mengubur Kerajaan Pamatan dan membuat tidak ada pemerintahan berdaulat selama 64 tahun di Bali.

Tapi apakah singkapan di Desa Tanak Beak adalah Kota Pamatan? Belum bisa dipastikan.

Para ahli baru sebatas memperkirakan berdasarkan temuan-temuan artefak dan endapan abu vulkanik di tempat itu. Lokasi persisnya masih menjadi perdebatan.

Lanskap Kota Pamatan

Dalam naskah Babad Lombok yang diterjemahkan Lalu Gde Suparman tahun 1994,   Pamatan hanya disebut salah satu kota yang hilang akibat letusan Samalas. Namun lokasinya belum dipastikan.

Penjelasan dalam naskah Babad Lombok setidaknya memberi gambaran tentang kondisi Kota Pamatan.

Pamatan disebut sebagai ibu kota negara yang subur, makmur, dan kuat.

”Pamatan kuta nagari, wibuh sugih digdaya.” Artinya “Pamatan ibu kota negara, kaya berlimpah dan kuat.”

Naskah Babad Lombok juga menceritakan Pamatan sebagai negeri yang baru terbentuk. Dibangun oleh penduduk yang pindah atau bermigrasi dari Desa Lae.

Di lokasi yang baru ini mereka membangun rumah, balai pertemuan, menata kota dengan benteng dan taman yang indah.

Penduduknya bercocok tanam, berdagang, dan melaut.

Sampai akhirnya mereka mengangkat sosok raja sebagai pemimpin Pamatan.

Pamatan disebutkan berada di daerah yang subur di bawah kaki gunung. Berbagai kekayaan alam hasil pertanian hingga perikanan membuat penduduknya sangat makmur.

Hasil pertanian seperti buah wijen, padi, jagung, sorgum, kacang, semangka, dan berbagai sayuran melimpah.

Termasuk hasil perikanan seperti ikan tenggiri, penyu, kepiting, rumput laut, hingga ikan hiu dimiliki penduduk Kota Pamatan.

Pamatan juga disebut sebagai kota dagang dengan ruas jalan yang lebar dan ramai. Para pedagang dari luar seperti orang-orang Bajo Sulawesi datang ke kota ini.

Lanskap Pamatan tersebut digambarkan dalam beberapa bait naskah Babad Lombok terjemahan Lalu Gde Suparman tahun 1994.

  1. Asalkan suah keluar desa, Desa Lae ditinggalkan, semua turun si orang banyak, berpindah dari situ, lagi membuat desa, di bumi Pamatan. Berkumpul di situ membuat benteng kota, sudah siap semua, pagar dan tembok tinggi, sudah kukuh kotanya.
  2. Sudah membuat rumah dan lumbung, dan dapur, balai peranginan dan balai pertemuan. Jalan-jalan terbentang, ramai di desa besar itu, taman indah mengelilingi kota, taman lengkap, pisang pepaya tebu, sirih pinang dan delima, pepaya, rontal, kelapa heran kusambi, tingguli seladri dara cina.
  3. Sangat subur tanaman teratur, dan menjadi si buah wijen, padi, jagung, dan sorgum. Menjadi pula kapasnya, kacang, gude, kara dan udis, timun boreng, semangka, sayuran berlimpah ruah, juga isi lautan, ikan lantang tenggir, penyu, ikan hiu, kepiting, lima, tiram, dan rumput laut.
  4. Alkisah orang di dalam negeri itu, di desa Pamatan, semua sejahtera makmur, tak ada kekurangannya, para pedagang datang, dan orang Bajo (Sulawesi) banyak, yang datang, semua barang ada, diperjualbelikan. Penduduk Pamatan banyak, hampir sepuluh ribu, semua tertidur nyenyak di bawah kaki gunung.

Berdasarkan bait-bait naskah tersebut, kita dapat mengidentifikasi kondisi daratan daerah yang menjadi lokasi Kota Pamatan.

Ciri paling menonjol yakni berada di lahan subur.

Tapi banyak daerah di Lombok tanahnya subur karena geologi Lombok banyak terbentuk dari batuan gunung api.

Tanah dari produk gunung api lebih subur dibandingkan tanah dari pelapukan batuan gamping yang banyak ditemukan di wilayah Lombok selatan.

Tanah subur banyak terdapat di lereng bawah sampai kaki gunung api. Selain subur, wilayah tersebut juga memiliki banyak sumber daya air.[2]

Hal ini sesuai dengan tulisan naskah Babad Lombok.

Penduduk Pamatan banyak, hampir sepuluh ribu, semua  tertidur nyenyak di bawah kaki gunung.”

Meski tidak disebutkan secara eksplisit gunung apa, tetapi gunung terbesar dan cukup mempengaruhi kehidupan masyarakat Lombok adalah Gunung Rinjani.

Sehingga besar kemungkinan Kota Pamatan masih berada di kawasan yang dekat dengan Gunung Rinjani atau Samalas.

Ciri lainnya, Pamatan adalah daerah yang kaya dengan hasil perikanan serta banyak dikunjungi pedagang lain negeri lain.

Meski berada di bawah kaki gunung, akses menuju laut juga tidak jauh dari daratan Pamatan.

Bahkan bisa jadi Pamatan adalah kota daerah pesisir yang banyak disinggahi kapal-kapal pedagang.

Cerita Lain dari Babad Suwung

Pendapat lain datang dari Prof Jamaluddin. Guru besar ilmu sejarah dan peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ini berpendapat, bisa jadi Pamatan adalah istilah bagi kerajaan-kerajaan periode awal di Lombok.

Sebab di Jawa juga dikenal istilah Pamatan untuk menyebut kerajaan yang berdiri di periode awal pembentukan kerajaan.

Disebut Pamatan karena mereka merupakan generasi-generasi awal.

Merujuk ke mauskrip Babad Suwung dan Babad Lombok, kata Jamaluddin, semua kerajaan di periode awal berada di bawah kekuasaan Raja Batara Indra.

Sehingga besar kemungkinan, Pamatan merupakan salah satu kerajaan awal yang didirikan anak-anak Batara Indra.

Dalam Babad Suwung, lanjut Jamaluddin, pembentukan kerajaan-kerajaan dimulai sejak Raja Batara Indra mendirikan kerajaan di Lombok. Pusatnya di Lombok Timur, dalam perkembangannya dikenal sebagai Kerajaan Selaparang.

Batara Indra memiliki 22 anak laki-laki yang disebar ke seluruh penjuru Lombok untuk mendirikan pemerintahan.

Ke-22 anak laki-laki Dewa Meraje Selaparang Batara Indra adalah Amaq Rare yang merupakan putra mahkota dan menggantikan sang bapak sebagai raja.

Anak berikutnya adalah Amaq Nyake, Amaq Sugian, Amaq Salut, Amaq Balun, Amaq Bayan, Amaq Sokong, Amaq Sentutun, Amaq Sumuliah, Amaq Tapen, Amaq Dam-Dam, Amaq Teben, Amaq Talkuang yang kemudian mendirikan kerajaan Taliwang Sumbawa. Kemudian Amaq Baris yang mendirikan kerajaan Manambaris.

Anaknya yang lain juga mendirikan kerajaan seperti Amaq Bayangan, Amaq Mumbul, Amaq Nyaka Satus, Amaq Nyaka Seket, Amaq Nyake Lombok, Amaq Nyake Rensune, Amaq Nyake Nurlalang, dan Amaq Pangeran.

Setelah anak-anaknya besar, Batara Indra mengutus anaknya ke setiap tempat mendirikan pusat pemerintahan.

Saat itu, Selaparang menjadi pusat kerajaan di Lombok, kemudian didukung dengan kerajaan-kerajaan kecil yang didirikan anak-anaknya.

Dengan melihat pusat-pusat kerajaan yang ada di Selaparang, Bayan Beleq, Pejanggik. Bisa jadi Pamatan ada di dekat wilayah Sembalun atau Selaparang.

Hanya saja Jamaluddin juga belum berani memastikan lokasi persis Pamatan yang disebut dalam Babad Lombok tersebut.

***

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pompeii

[2] https://theconversation.com/menelusuri-jejak-pamatan-kota-yang-hilang-setelah-letusan-gunung-samalas-di-pulau-lombok

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Read More

The thwarting of the Gunpowder Plot and how it evolved into Bonfire Night

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...

Currency in Ancient Greece: Gold Oktadrachm of Ptolemy IV

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...

Terracota Jugs which were Painted to tell Short Stories in Ancient Greece

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...

Recent

Grand Canyon seen through the Lens of William Bell’s camera

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...

The Artisty in the Hands of the People: Irish Dunvegan Cup

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...

The life of the 16th President of the United States, Abraham Lincoln

Commandeered by Neil Armstrong, the Apollo 11 mission was a spaceflight that landed the first two people on the Moon. Following the "Cold War"...